Kamis, 28 Mei 2020

Serabi Yang Bikin Khilaf

Satu Paket Serabi Bang Bing.

Suara Adzan Magrib pada aplikasi di ponsel cerdas sudah berbunyi, sebagai pertanda bahwa waktu berbuka sudah tiba. Adzan tersebut pun juga sebagai penutup bulan suci Ramadan 1441 Hijriah. Lengkap sudah saya melaksanakan ibadah puasa selama 30 hari dan saatnya melaksanakan malam takbir menuju hari raya Idul Fitri. Kali ini, saya memilih kantor saya di Bilangan Senayan sebagai tempat untuk membatalkan puasa dengan serabi, Penganan berbentuk bundar pipih berbahan dasar adonan tepung. 

Proses Pembuatan Serabi.

Serabi Bang Bing Namanya, Serabi khas betawi ini berbeda dengan serabi dari daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bila dari daerah lain bahan dasar serabi menggunakan campuran adonan tepung, santan, dan beras ketan atau gandum. Serabi Bang Bing hanya menggunakan campuran adonan tepung dan santan, dengan resep yang sudah turun-temurun sejak era 1980. 

Lapar yang saya tahan sebelumnya, membuat saya langsung melahap sebuah serabi tanpa menggunakan kuah kinca. Rasa serabi itu sangat gurih, teksturnya pun sangat lembut, berbeda dengan serabi yang biasa saya makan di daerah Sukasari Bogor. Tekstur serabi yang saya biasa nikmati di Sukasari agak Kasar.

Ketika saya mencampur kuah kinca dengan serabi ke dalam mika yang menyerupai mangkuk, saya mendapatkan ekspetasi yang berbeda. Awalnya, saya mengira kuah kinca adalah carian gula aren atau gula merah. Ternyata saya salah, kuah kinca serabi Betawi ternyata campuran gula aren dan santan. Begitu pula dengan rasanya, ekspetasi saya pun juga salah. 

Proses Pendinginan Serabi.

Rasa gurih serabi bercampur dengan kuah kinca, membuat saya lupa sesuatu. Dengan sengaja namun tanpa mengingat satu paket berisi 10 buah serabi berpindah tempat, dari mangkung ke lambung. Saya melakukan sebuah kekhilafan karena sejatinya sedang melaksanakan program penurunan berat badan atau diet.

Meskipun demikian tidak mengapa, demi sepaket serabi khas betawi Bang Bing dengan rasa orisinal dan pandan, urusan berat badan bisa diatur dengan menambah porsi olahraga yang sudah saya laksanakan selama bulan suci Ramadan.# 
Teks: Satria Loka Foto: Gilang Ramadan

G+

Tidak ada komentar :

Posting Komentar